Pentingnya Jeda Saat Ego Meninggi

Tema hari ini cukup membuat saya berpikir keras sebelum menulis. Bukan hanya tema keluar dari diskusi kemudian kembali dengan "perfect comeback" yang membuat saya pusing, tapi lebih pada saya harus menyaring kenangan yang terkait tema hari ini. And trust me, i really dont like it LOL.
But anyway, the blog must be post right. So here i am, writing anything about todays topic.
Saya tipikal seseorang yang jika sudah memiliki argumen yang kuat akan sesuatu hal, tidak suka dipatahkan. Dalam hal apapun, entah itu sekedar diskusi ringan, relationship, pekerjaan, atau apapun. Terlebih jika saya yakin, argumen saya cukup kuat dan saya berada di posisi yang benar. Keras kepala? Heum maybe... I'm scorpion girl.
Karena saya sadar dengan tipikal saya yang demikian, saya cenderung memilah mana topik topik yang saya kuasai, mana yang tidak. Dan pada akhirnya saya akan mulai menarik diri jika topik pembicaraan sudah di luar ranah saya untuk bicara.
Termasuk saat berdikusi dengan pasangan (atau mantan pasangan? Whatever) saya masih menjadi seseorang yang akan kukuh memegang argumen saya jika itu benar. Terkadang jika diskusi sudah menegang dan ego sama sama tinggi, saya memilih untuk diam dan mundur dari perdebatan. Bukan untuk menyerah. Tapi, memberikan jeda pada saat seperti ini sangat membantu saya untuk memikirkan kembali semuanya.
Benarkah argumen saya? Benarkah cara saya menyampaikan argumen tersebut? Apakah diskusi ini bisa mendapatkan solusi atau hanya memperkeruh suasana? Dan masih banyak pertimbangan lain.
Hal yang sama mungkin bisa diterapkan di saat diskusi atau debat yang cakupannya lebih luas. Terkadang saat debat atau diskusi memuncak, ego masing masing sudah memuncak. Yang ada di pikiran adalah bagaimana memenangkan ide kita. Jika demikian, sedikit step back dan re-evaluate apa yang sudah terjadi dan mencari "winning statement" dengan tensi emosi yang lebih stabil adalah salah satu pilihan yang bisa dipilih.
Salah satu fragmen yang saya ingat saat "perdebatan" dengan seseorang. Setelah saya meletakkan ego saya tidak berada di puncak emosi. Saya kembali dan mengatakan hal ini pada dia
"Seburuk buruknya aku sebagai istri, aku tetap perempuan yang punya harga diri. Entah menurutmu aku sudah tidak lagi berharga untuk dipertahankan tapi aku berhak atas penjelasan. Saat kamu memintaku baik baik pada orang tuaku. Maka kembalikan aku baik baik juga.  Bukan pergi tanpa penjelasan. Aku juga tidak akan mengemis kamu untuk kembali. Kamu tahu bagaimana menghubungi aku. Aku tunggu kamu datang. Sesiapmu saja."
Dang!!!!

Gambar diambil dari sini


#Day7
============
July 30
Drawing a blank
When was the last time your walked away from a discussion, only to think of The Perfect Comeback hours later?
Recreate the scene for us, and use your winning line.

365 DAYS OF WRITING PROMPTS
A prompt to fire your imagination, each and every day
for a year

The Editors, WordPress.com

No comments:

Post a Comment