Coba apa yang kita pikirkan kalau dapat senyuman seperti ini?

Pernah gak kita merasa bad mood seharian?

Coba ingat-ingat apa yang terjadi?

Apakah pekerjaan kita lancar saat kita bad mood?

Apakah cara kita menghadapi orang hari itu berbeda? Lebih sensitif dan mudah tersinggung?

Saya sudah merasakan bagaimana hari saya berantakan saat saya bad mood. Rasanya perasaan ini campur aduk yang akhirnya berakibat pada pekerjaan yang tidak terselesaikan dengan baik. Oh ya beberapa hari ini,  saya sedang mencoba satu cara yang membuat hari saya menjadi luar biasa, sepanjang hari. Apa itu?

Tersenyum. Yup, tersenyum.

Kalau bad mood bagaimana kita bisa tersenyum? Ternyata bisa, saya sudah mencobanya. Awalnya susah sekali mau tersenyum di pagi hari jika hati sedang gundah. Apalagi jika ada masalah ini dan itu yang mengganggu pikiran, bawaannya pengen cemberut saja. Oh ya, sebelum saya menulis panjang lebar yuk intip manfaatnya kalau kita tersenyum. Eits, jangan salah, tersenyum itu juga banyak loh manfaatnya.

Senyum Bisa Mengurangi Stres
Nah, coba deh kalau pas kita lagi sibuk dan stress, berhenti sejenak. Pejamkan mata dan ingat-ingat hal-hal yang membuat kita tersenyum. Apa saja. Konon senyum bisa mengurangi tingkat stress. Saya sih sudah pernah coba, saat tekanan pekerjaan meningkat, saya coba alihkan perhatian untuk membaca atau melihat tontonan yang menghibur. Atau paling gak, buka You Tube, lihat stand up comedy. Tersenyum dan tertawa sejenak. Pikiran akan menjadi lebih fresh.

Senyum Bisa Membuat Kita Jadi Awet Muda
Aaahh kalau ini mah setuju banget. Percaya deh sama saya. Orang yang murah senyum dan suka membagikan senyum ke banyak orang tanpa alasan itu bisa terlihat awet muda. Coba lihat deh Tom Cruise, Richard Gere, Jeremy Thomas, Donna Harun, atau siapalah public figure yang terlihat tetap awet muda karena murah senyum. Mau awet muda? Banyakin senyum dah.

Senyum Membuat Orang Tertarik dan Berpikir Positif Tentang Kita
Orang akan cenderung tertarik berkomunikasi dengan seseorang yang murah senyum. Selain itu, image positif juga nempel di orang-orang yang suka senyum. Orang yang murah senyum akan terlihat lebih lovable dan trustworthy.

Senyum Membuat Kita Lebih Sehat
Ini kaitannya dengan poin pertama. Kalau tingkat stress berkurang tubuh juga cenderung lebih sehat. Percaya deh hehehe. Kita gak mudah emosi, gak mudah naik darah, gak mudah jantungan, atau apalah. Hidup jadi lebih ringan dan tanpa beban. Kalau dapat masalah yang buat bad mood, daripada marah dan emosi duluan, mending disenyumin dulu aja.

Senyum Mampu Menghilangkan Rasa Sakit   
Kalau ini saya pernah baca di salah satu artikel kalau tersenyum itu bisa melepaskan hormone endorfin dalam tubuh. Dengan lepasnya endorfin ini, rasa sakit yang kita rasakan cenderung mudah hilang. Kalau yang ini saya pernah coba waktu terakhir kemarin sakit asma. Gak sih langsung hilang rasa sakitnya, hanya saja rasa tenang yang membuat rasa sakit itu sedikit hilang.

Nah lantas bagaimana untuk membiasakan tersenyum di pagi hari. Kalau misal kita tengah dirundung masalah memangnya mudah kalau mau tersenyum. Ok, ini cara yang saya lakukan tiap hari dalam beberapa waktu terakhir ini.
  1. Sebelum tidur malam hari, ingat apa saja hal yang kita syukuri setiap harinya.
  2. Saat bangun pagi hari, ingat lagi apa saja hal yang kita syukuri saat ini, apa saja.
  3. Bangun mood positif dengan mendengarkan musik melalui MP3 atau radio
  4. Kalau bertemu dengan orang yang membuat kita bête, coba ingat hal-hal lucu atau menyenangkan tentang dia
  5. Mengingat Tuhan, kalau di agama saya berdzikir

Sampai saat ini, saya berhasil membangun mood positif dan tersenyum di pagi hari. Mau coba?
Semoga bermanfaat.


Geng Cinta are Back!!

Yah, beberapa waktu terakhir kita semua mendapat serbuan informasi baik dari online, televisi, radio, media cetak, dan lain-lain, jika Mira Lesmana dan Riri Riza akan membuat sequel dari film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) dengan tajuk Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC 2). Dan saya langsung bersorak ala ABG hehehe… Yeeey… Geng Cinta are Back. Dan kemudian teman-teman tahu apa yang saya lakukan? Langsung saya menjelajah di You Tube, follow channel Miles Films dan mencari spoilernya hehehe…

Memang isu tentang reuninya Geng Cinta lengkap dengan Rangga dan Mamet ini muncul sejak iklan Line yang dibintangi oleh mereka ditayangkan di televisi dan You Tube. Dan isu itu menjadi kenyataan, film Ada Apa Dengan Cinta 2 akan ditayangkan serentak di 3 negara, Indonesia, Malaysia, dan Brunei pada tanggal 28 April 2016.

Gambar diambil dari sini
Munculnya lanjutan film AADC ini membuat ingatan saya terlempar di masa-masa SMA. Bagaimana tidak, saat film ini pertama kali diputar, saya masih kelas 2 SMA. Saat itu film AADC booming banget. Sampai ada anekdot “Lu ga gaul kalau ga nonton AADC di bioskop atau hafal puisi-puisinya.” Dan saya termasuk di jajaran anak muda yang ngantri di gedung bioskop untuk nonton film AADC.

Film ini merupakan salah satu pemicu saya menggeluti dunia menulis. Namun, sesungguhnya saya sudah suka menulis sejak SD dan aktif menulis di SMP. Tapi, karena AADC ini saya mulai belajar dan mencari tahu tentang puisi dan karya sastra lebih dalam. Dan AADC juga yang membuat saya memutuskan untuk memilih masuk jurusan Sastra Indonesia Universitas Airlangga.

Dulu waktu SMA, saya ingin sekali menjadi tim mading dan majalah sekolah. Lagi-lagi hal ini terpengaruh karena AADC. Tapi karena sebelumnya saya sudah aktif di KIR dan OSIS, saya tidak bisa masuk tim mading dan majalah sekolah. Saat itu, saya kecewa sekali hehehe… Karena harapannya sih saat itu, saya ingin seperti Cinta, Maura, Milly, Carmen, dan Alya.

Gagal menjadi bagian dari tim redaksi majalah sekolah dan mading, akhirnya yang saya lakukan adalah menulis dan mengirimkan tulisan saya ke mereka. Hehehe… Kadang dimuat, tapi lebih banyak tidak. Tapi sadarlah saya, saat itu tulisan saya pasti masih acak adut dan tidak layat muat.
Sejak saat itu, saya sangat terpacu untuk bisa menulis dan mempelajari sastra Indonesia lebih dalam lagi. Dan inilah saya sekarang, di sini menuliskan semua kenangan itu.


Semoga bermanfaat.      



Papa saya berasal dari pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Merantau ke Jawa sejak sangat muda dan memutuskan untuk menjadi Pelaut masa itu. Pengalaman beliau merantau, bekerja sebagai ABK (Anak Buah Kapal) ke berbagai penjuru Nusantara dan beberapa negara di dunia, membuat beliau terbiasa mengerjakan pekerjaan harian rumah sendiri. Salah satunya memasak.

Keahlian memasak inilah yang dibawa Papa hingga berkeluarga. Satu hal yang saya kagumi dari orang tua saya adalah beliau berdua menjalankan kehidupan rumah tangga itu sebagai partner. Mama tidak takut untuk ikut membetulkan jika ada sudut rumah yang rusak. Dan Papa juga tidak segan untuk turun ke dapur memasak untuk kami semua.

Salah satu menu yang paling sering Papa masak adalah Plecing Ayam. Plecing Ayam ini makanan khas dari Lombok kata Papa. Kalau kata saya mah ayam suwir hehehe… Pertama kali tahu menu ini saya waktu kecil, saya masih SD mungkin. Saat itu, Papa minta Mama belanja ayam beberapa ekor. Mama dari pagi sudah siap dengan ayam ayam potong. Pulang sekolah, Mama meminta tolong untuk membantu nyuwiri ayam.

Saat itu saya sih nurut saja, jadi setelah semua ayam digoreng Mama kemudian ditaruh di wadah baskom besar. Setelah itu tugas saya untuk nyuwiri kecil-kecil. Banyaaak banget ayam yang harus disuwiri, seinget saya waktu itu nyuwiri sampai hampir Maghrib. Hasil ayam suwirnya sampai sebaskom munjung. Saya lantas berpikir waaah ini pasti ada pesta ini, jarang-jarang Mama masak ayam segitu banyaknya.

Saat Papa pulang dari kerjanya, beliau langsung menuju dapur dan menyiapkan bumbu-bumbu. Tidak lama suara blender terdengar. Aroma tumisan bumbu semerbak di seluruh rumah. Aroma cabenya pedas banget nyegrak di hidung. Agak lama, Papa keluar dari dapur dengan membawa semangkok tanggung ayam yang tadi saya suwir yang sudah berbumbu.

Saya bingung, kok cuma segitu, kan tadi saya nyuwiri ayam banyak banget. Tidak lama Mama membawa wadah besar berisi ayam bumbu lainnya yang  sudah diwrap plastik dengan rapi. Ternyata Papa mendapat pesanan lauk ayam dari rekanan kerjanya. Tidak lama Papa mengajak saya ke daerah yang tidak pernah saya datangi. Saya membawa wadah itu di belakang sambil dibonceng Papa. Papa mengajak saya ke daerah yang rumah-rumahnya seperti di dongeng Disney. Rumah besar berjajar, membuat saya terkagum-kagum. Kami berhenti di salah satu rumah, Papa memencet bel dan bapak-bapak keluar. Papa menyerahkan wadah yang berisi penuh dengan ayam.

Saya ingat sekali, saat perjalanan pulang saya ngedumel “Nunung kan udah capek nyuwiri, masa cuma dapet dikit ayamnya Pa”. Papa menjawab “Sabar, kan kalau gini kita dapat uang, nanti kita masak ayam yang lebih banyak.”

Sampai rumah, kami bertiga makan ayam masakan Papa dengan nasi panas. Sejak saat itu, Papa sering meluangkan waktu untuk masak Ayam Plecing untuk kami. Bahkan sampai sekarang, setelah beliau pulih dari stroke kadang beliau memasak Ayam Plecing atau kadang dimodifikasi diganti dengan tempe atau ikan tongkol. Mama sebenarnya juga pernah sih diajari Papa cara memasak Ayam Plecing, tapi entah mengapa rasanya tidak sesedap saat Papa yang memasak.

Mau tahu resep andalan Papa yang menjadi favorit kami sekeluarga? Kurang lebih saya tuliskan di bawah ini yah. Nanti kalau pengen lebih detail saya berikan nomor handphone Papa saya deh. Hehehe… Oh ya, saya juga kebingungan mencari foto untuk Ayam Plecing buatan Papa, karena memang jarang saya abadikan. Jadi saya mengambil gambar ilustrasi untuk tulisan ini dari sini.

Ayam Plecing ala Papa
Bahan 
  • 1-2 ekor Ayam (sesuai kebutuhan)
  • Minyak Goreng secukupnya
  • Garam
  • 7-8 lembar Daun Jeruk (Dicacah atau blender halus)
  • 3-4 buah Jeruk limo, iris jadi dua 
  • 1 Jari lengkuas, rajang halus

Bumbu Halus :
  • 10 buah cabe keriting
  • 100 gram cabe kecil
  • 20 butir bawang merah
  • 10 butir bawang putih
  •  ½ sendok teh terasi

Cara Membuat : 
  1.  Potong-potong ayam sesuai kebutuhan untuk memudahkan suwiran, cuci bersih. Goreng ayam hingga kering.
  2. Suwir daging ayam kecil kecil, kalau ada tulang muda jangan dibuang, jadikan satu potong kecil.
  3.  Tumis bumbu halus hingga matang dan harum
  4.  Masukkan daun jeruk, garam, dan perasan air jeruk limo sekalian ama buahnya, juga lengkuas.
  5. Tumis lagi bumbunya sampai tanek.
  6.  Masukkan suwiran daging ayam. Aduk hingga bumbu merata dan matang sempurna.
  7. Ayam Plecing siap disajikan dan disantap dengan nasi hangat.

ps : Kalau pengen tahu detail beneran deh saya kasih nomor handphone Papa saya. Jangan lupa kirim ke rumah kalau coba resep ini yah. Selamat mencoba.         


Memiliki lelaki yang bersama dan menemani di lebih dari satu dekade itu terkadang tidak menjamin kita benar-benar tahu apa yang diinginkannya. Saya pun begitu, saya hingga kini masih berusaha memahami suami saya tercinta. Ada yang pernah mengatakan pada saya, kehidupan rumah tangga itu layaknya rumah tumbuh. Harus siap kapanpun untuk terus berproses menjadi lebih baik.

Waktu kemarin suami saya ulang tahun, jujur saya bingung hendak memberikan kado apa. Saat iseng saya tanya “Ay, mau kado apa untuk tahun ini?” Dia hanya tersenyum dan berkata tak ingin apa-apa. Namun, sesekali saya memperhatikannya mengutak atik handphonennya yang memang sudah agak lemot. Beberapa kali saat kami jalan bersama dengan motor, ia juga mengeluhkan motor yang sudah mulai tidak layak jalan. Ada kalanya pula, saya memperhatikannya kebingungan saat pergi ke luar untuk acara santai karena jaketnya hanya jaket rider.

Lantas saya berpikir, apa kado yang pas untuk suami saya handphone, motor, atau jaket? Makin bingunglah saya. Kemudian percakapan itu pun hadir. Suatu hari, kami berdua, entah mulai dari mana, mulai berbicang hangat. Ia sempat mengucapkan kalimat yang membuat saya meleleh.

“Ayah gak mau apa-apa Bund, asal Bunda sehat, gak sakit-sakitan. Itu saja”

Kata-kata itu membuat saya tersadar, belakangan memang saya mulai sakit ini dan itu. Awalnya, saya tidak memandang serius. Saya juga berpikir kan ini badan saya, kalaupun sakit hanya saya saja yang merasakannya. Ternyata saya salah, ternyata saya lupa kalau saat ini ada Ia yang juga menerima amanah dari Papa untuk menjaga saya.

Wahai suamiku, apa cukup untukmu diriku yang sehat saja bisa menjadi hadiah untukmu. Kalau memang iya, betapa beruntungnya saya, bahkan saat harusnya kamu memikirkan apa yang kamu inginkan, kamu malah memikirkan kepentinganku. Jujur saya ragu saat itu hehehe... Saya sempat memancingnya dengan berbagai cara. Dan jawabannya malah membuat saya jadi nyess... Dia bilang kalau barang-barang yang lain itu dia bisa beli sendiri. Kalah telak lah saya. Ya iyalah, gaji dia jauh lebih tinggi dari pendapatan saya hahaha.

Jadi saat Kang Dani Rachmat membuat giveaway yang bertema “Kado yang Paling Pas untuk Cowok”, langsung muncul fragmen fragmen cerita di atas dalam ingatan saya. Saya, berdasarkan hasil investigasi saya ke Mas Suami, akhirnya memberikan improvisasi sedikit. Kado yang paling pas untuk laki-laki beristri adalah memiliki istri yang sehat dan bahagia. Mengapa demikian?

Karena kehidupan rumah tangga sesungguhnya adalah sebuah kerjasama tim. Memiliki partner tim yang sehat dan memancarkan aura positif yang penuh kebahagiaan akan memudahkan tim itu untuk menjalani tiap tantangan yang muncul. Istri merupakan nyawa bagi sebuah rumah tangga. Coba bayangkan jika pasangan kita sakit-sakitan, kita tentu terbebani secara psikologis. Belum lagi roda rumah tangga pasti tidak seimbang, karena ada salah satu pihak yang tidak bisa melangkah seiringan.

So, that’s way, sekarang saya mulai menjaga kesehatan. Bukan diet serampangan yah. Tapi sehat dengan menjaga asupan makanan, aktifitas fisik yang diperbanyak, olahraga, dan lain-lain. Bukan karena saya sok memperhatikan diri sendiri. Tapi karena saya ingin memberikan kado terindah untuk suami saya. Menyehatkan diri terlebih dulu sembari menjaga kesehatannya juga. Itu kado yang terindah untuk laki-laki yang menjadi Imam saya. 

Saya ingin memberikan diri saya yang sehat kepadanya agar kami bisa menua bersama. Agar saya tidak melihat wajahnya yang panik saat saya sedang sakit. 

Bagiamana dengan kado terindah menurutmu?

Semoga bermanfaat.

Tulisan ini dibuat untuk mengikuti Giveaways yang diadakan oleh Kang Dani Rachmat. Informasi tentang lomba bisa didapatkaan di sini

Sesungguhnya tulisan ini harus terunggah tanggal 5 April maksimal. Karena kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan (alasan aja lu neng) saya baru bisa post hari ini. Niatnya ingin meramaikan Giveaway Kang Dani aja deh. :) 


Pernah ga merasa jenuh nge-blog? Saya pernah, beberapa kali. Tapi sebenarnya bukan jenuh kali ya tapi saking capeknya sampai malas nulis. Seperti saat ini, pekerjaan kantor begitu menghujam, lapak online saya juga Alhamdulillah lagi rame-ramenya. Menulis blog itu seperti barang mewah bagi saya saat ini. Harus curi-curi waktu dan sempet-sempetin buat nulis. Di tengah lelah dan kantuk, postingan ini dibuat.

Kemudian saya berpikir, tujuan awal saya menulis blog itu untuk bersenang-senang. Saya menulis blog sejak 2009, dan sejak itu saya menjadikan menulis sebagai media rekreasi dan menumpahkan segala penat dan emosi yang terpendam. Makin ke sini, tujuan menulis blog pun berkembang. Dan jujur, saya semakin merasa bersenang-senang. Ada satu masa memang jenuh, lelah, atau apalah. Tapi, begitu ingat hal lain yang membuat saya kembali semangat menulis blog, hal-hal negatif itu semua hilang. Apa saja itu? Simak yuk.

Nulis Blog itu Penyeimbang Jiwa
Nge-Blog atau menulis itu bagi saya pribadi merupakan terapi jiwa. Terlebih di masa awal saya nge-blog yang isinya menggalau terus. Saat itu, saya memang tengah mendapat tantangan hidup yang luar biasa. Dan menurut seorang kawan, menulis adalah salah satu cara untuk membuat saya tetap “ada”.

Kalau saat ini, saya menulis blog masih bertujuan sebagai penyeimbang jiwa. Di tengah rutinitas pekerjaan yang saya lakukan setiap hari, menulis itu merupakan surga bagi saya. Sejenak penat akan terhilang. Melakukan satu hal yang paling kamu sukai, di tengah seharian melakukan hal yang “bukan kamu banget” itu begitu menghidupkan.

Eksistensi & Personal Branding
Entah yang lain, tapi bagi saya blogging juga sebagai wujud eksistensi dan personal branding saya. Saya bisa mengenalkan diri ke banyak orang melalui tulisan-tulisan saya. Mengenal banyak orang di komunitas blogger atau komunitas lain melalui tulisan.  

Sekarang ini saya bisa lebih mudah melakukan pendekatan ke orang lain dan selalu diakhiri “Kunjungi blog saya yah, nengnunung.com”.  

Tertantang hal Baru
Ini yang membuat saya betah nge-blog dan ini pula yang membuat saya selalu kangen nge-blog setelah beberapa lama vakum. Hal itu adalah tantangan.

Yup, setelah mendeklarasikan diri sebagai blogger, banyak hal baru yang harus saya pelajari. Tantangan demi tantangan baru muncul bergantian untuk dieksekusi. Misal, saya mulai tahu bagaimana itu coding meskipun secara sederhana. Saya mulai tahu, dalam sebuah postingan blog, efek visual itu penting untuk menarik pembaca. Dan banyak hal lainnya. Percayalah, semakin kita banyak tahu, semakin banyak yang harus kita pelajari.

Blogging Jadi Sumber Penghasilan?
Apa iya nge-blog bisa dapat penghasilan? Bisa iya bisa tidak bagi saya. Kalau dari awal memang berniat mengumpulkan pundi-pundi dari blogging, ya sudah berarti memang bisa. Tapi kalau idealismenya gak me-monetize blog ya gak masalah.

Kalau saya? Saya masih suka datang ke acara ini itu untuk membuka peluang. Saya juga masih menerima job review. Saya masih belajar bagaimana memanfaatkan blog untuk sumber penghasilan.  Kalau kamu?


Semoga bermanfaat   
Ini nih topik yang selalu membuat galau, liburan. Pasti deh kalau bahas liburan itu saya jadi baper (terbawa perasaan). Jadi di keluarga kecil kami jarang liburan ke luar kota atau apalah. Kecuali kalau memang waktu liburnya panjang dan barengan. Karena kadang, saya libur, mas suami ada kerjaan. Begitu juga sebaliknya. Kadang kalau sama-sama libur juga, saya atau dia sibuk dengan kegiatan masing-masing. Saya urusin dagangan dan dia urusin laporan pekerjaan atau apalah.

Nah karena alasan yang agak dibuat buat diatas, sebagai istri yang kece dan punya kesibukan tingkat Dewa 19, jadi saya cari akal dong agar kami bisa liburan tipis-tipis. Liburan tipis-tipis ini biasanya kami lakukan di hari Minggu. Intip yuk liburan tipis-tipis ala kami. J

Datang ke Car Free Day
Kalau ke car free day (CFD) ini kadang dijalanin kadang ga. Karena biasanya hari minggu itu hari molor jaya. Jadi, kalau memang mau ke car free day itu kita buat kesepakatan dulu sehari sebelumnya. Di Surabaya sudah mulai banyak ruas jalan yang ada kegiatan car free day. Kalau dulu hanya di ruas jalan Raya Darmo, kini di beberapa ruas jalan utama lain juga sudah ada CFD.

Kalau yang lainnya di CFD bersepeda ria, atau lari, atau olahraga lain. Kalau kami? Berburu makanan dong. Larinya mah tipis tipis saja. Selebihnya cari makanan unik yang biasanya ada di CFD hehehe. Kalau beruntung sih kami, saya sih tepatnya, belanja barang apalah yang ada di sana. Biasanya murah-murah.

Baca juga : 5 Tips untuk Refreshing Singkat di Tengah Kesibukan

Wisata Kuliner
Saya dan suami ini doyan makan. Kami memiliki list warung makanan atau tempat makan yang recommended menurut kami. Warung makan yang masuk list kami sih biasanya harus memenuhi kriteria enak, murah, tempatnya bersih, dan pelayanan ramah. Kalau rasanya enak tapi agak gak ramah di kantong sih masih kami masukkan list, tapi pasti jarang kami datangi. Sesekali saja, untuk tombo pengen.

Hehehe... kalau wisata kuliner begini kami lebih suka memang di warung-warung blusukan. Apalagi Surabaya surganya makanan pinggir jalan. Kami memiliki warung langganan yang pasti kami datangi, misal kalau beli nasi goreng di sini, bebek goreng di sini, soto di sini, begitulah.

Nonton Drama Korea di Laptop
Kalau yang ini, entah siapa yang lebih dulu meracuni siapa soal suka nonton drama Korea ini. Tapi begitu kami sadar, kami memiliki beberapa koleksi drama Korea di Laptop. Kalau liburan tipis-tipis ala kami di part ini, kami bisa menonton drama Korea full satu judul dalam sehari.

Kok bisa? Aaahh... Kami bisa gegoleran seharian makan dan nyemil di depan laptop. Habis dari kamar mandi, sholat, atau apalah, balik lagi ke depan laptop. Kalau ada salah satu yang sedang mengerjakan sesuatu, film wajib dihentikan sementara.

Kok aneh ya pasangan ini? Hehehe... tenang kakak kakak semua, liburan tipis tipis ala kami dengan nonton drama Korea bisa dihitung jari kok dalam sebulan. Tapi ya kalau sudah pengen nonton berdua, ya beginilah adanya.

Touring Tipis Tipis
Nah kalau hasrat liburan menggebu, akhirnya yang kami lakukan adalah touring tipis tipis. Mumpung belum punya momongan hehehe, kami biasa pergi aja gitu naik motor. Misal, ke Malang, Pacet, Madura, dll. Jalan saja berdua, sampai sana makan-makan, nikmati suasana terus pulang. Hehehe...
Kadang sih pake acara menginap, tapi lagi-lagi itu kalau hari liburnya agak panjang atau kami berangkatnya Sabtu.

Kalau kata saya mah...

Tidak penting kamu ada di mana sekarang, yang penting itu dengan orang yang menyayangimu.
Semoga bermanfaat     





Jadi begini kawan, sebagai blogger newbie (eheem) kadang saya masih sering ngiri ama teman-teman yang sering banget dapat undangan acara Blogger hehehe.Waktu awal-awal sih baper banget. Tapi kemudian saat saya terjerumus masuk ke komunitas blogger yang kece saya jadi terpacu untuk memantaskan diri biar bias eksis juga di acara acara offair blogger. Kalau kamu mau dan niat banget eksis di acara blogger, lanjut baca yah

#Aktif di Komunitas Blogger Baik Online dan Offline
Untuk poin pertama ini penting yah. Itu mengapa saya letakkan di poin pertama hehehe. Jadi, kalau mau jadi blogger yang eksis, coba deh ikut di komunitas blogger. Berkomunitas itu menurut saya pintu awal dari keeksisan kamu di dunia blogging.  Gak percaya? Cobalah, kamu gabung di komunitas blogger manapun. Mau tingkatan lokal dan nasional, terserah.

Tapi, jangan hanya gabung saja terus jadi silent reader. Wajib buat kamu untuk aktif di komunitas tersebut. Mengapa harus aktif? Karena agar founder komunitas atau member ngeh (sadar) atas keberadaanmu sebagai blogger. Janganlupa, saling interaksi. Karena interaksi itu penting untuk menjalin kedekatan antar sesama blogger.

Dengan aktif di komunitas, kita bisa mengetahu setiap update seputar dunia blogger. Termasuk jika ada kesempatan untuk mengikuti sebuah acara blogger.  

# Meluaskan Jejaring Pertemanan
Kalau sudah jadi blogger mah wajib buat narsis dan buka diri di sosial media. Semua sosial media harus aktif dan ada interaksi dengan teman di sana. Tambahkan pertemanan atau follow sebanyak mungkin orang. Pernah bingung kah, saya harus add siapa ya? Atau buat apa sih saya harus meluaskan jejaring pertemanan kita?

Lagi-lagi prinsip menyambung silahturahim akan memanjangkan rezeki saya gunakan hehehe. Istilahnya bukan banyak anak banyak rezeki tapi banyak teman banyak rezeki. Dengan memiliki banyak teman, apalagi sesama blogger, kita bisa seseruan bareng kalo pas sama-sama ada di satu acara blogger.

# Sering Stalking ke Akun Sosial Media Brand
Kalau cara ketiga ini mah kalau isengnya keluar kebangetan. Paling gampang, kita bisa like atau follow akun-akun brand yang kita suka. Biasanya sih ada beberapa brand yang sering mengadakan kuiz dan acara offair. Lagi-lagi di sini kuncinya adalah interaksi.

Kalau dengan brand saya sih menyarankan jangan terlalu tebar pesona hehehe. Agak jaim sediikit lah. Tapi tetap stalking yah. Nah pikat brand itu dengan cara selanjutnya yah.

# Rajin Nulis Artikel di Blog
Ini Gongnya. Diletakkan terakhir karena ini bagian yang juga paling penting. Kita blogger kan yah. Ya udah lah tugas kita nulis aja di blog. Rajin-rajin  nulis review atau reportase, atau hanya sekedar nulis keseharian. Kalau misal kita nulis review yang terkait dengan satu brand tertentu, bagikan deh di sosial media, dan mention brand tersebut. Dibayar ataupun tidak yah. Jadi Blogger kudu ikhlas hahaha.

Rajin nulis blog ini juga nantinya akan terkait dengan hal-hal teknis di dunia blogging lainnya. Misal, Alexa Ranking yang makin ramping, domain authority yang meningkat, pembaca blog yang semakin banyak dll. Nah hal-hal teknis ini nantinya dijamin bakal bikin hidup kamu sebagai blogger tambah happy. Hehehe...

Sudah ah itu saja. Semoga bermanfaat.





Bakso itu salah satu makanan favorit saya, kalau saya bilang gini, teman-teman atau saudara terdekat saya pasti kompakan bilang, “Memangnya ada makanan yang Nunung gak suka?” hehehe... Oh ya, saya ingin cerita tentang salah satu warung bakso langganan saya dari sejak dulu. Dari jaman kuliah sampai sekarang, ada salah satu warung bakso di Surabaya yang hampir selalu jadi tujuan utama kalau kepingin makan bakso.

Bakso Pak Jan, atau lebih dikenal juga dengan Bakso Kalimantan. Ini karena letak warung bakso Pak Jan ada di jalan Kalimantan, Surabaya. Lokasinya sangat strategis, terletak hampir di pusat kota, dekat dengan jalan raya Gubeng, jalan Pemuda, jalan Kertajaya, dll. Dulu, saat saya masih kuliah di Universitas Airlangga sampai kerja di tempat yang sama, kalau kepengen bakso hampir selalu ke Bakso Kalimantan.

Bakso Kalimantan atau Bakso Pak Jan ini termasuk jenis bakso Solo. Nah loh bingung kan kamu, Bakso Solo yang dikenal sebagai Bakso Kalimantan yang ada di Surabaya. Jujur ya, meskipun saya penggemar bakso, tapi sampai sekarang saya gak bisa bedakan mana bakso Malang, mana bakso Solo, kecuali dari tulisannya. Saya mah makan, makan saja. Tanpa pusing itu jenis bakso apa xixixi...
Bakso Kalimantan ini endeeess (baca : enak) banget. Isinya lengkap, mau pentol bakso aja bisa pilih kasar atau halus, ada tahu goreng, tahu kukus, pangsing goreng, dan pangsit kukus. Lengkap pokoknya mah. Kalau masih lapar, bisa tambah pakai lontong. Disajikan di mangkok dengan kuah bening yang gurih, nikmat, endeslah pokoknya mah.

Sempat saya tanya, kok disajikannya putihan sih, alias belum ditambah kecap, saos tomat, sambel, dll. Ternyata, ini karena biar pembeli dan penikmat bakso itu bisa meracik sendiri sesuai dengan selera. Hehehe… Pas banget dah ama saya yang suka minta tambah ini itu kalau beli bakso.
Jadi saat, bakso disajikan, kita tinggal meraciknya dengan tambahan yang ada di meja. Ada garam juga kalau misal kurang asin. Kalau saya hampir jarang pakai tambahan garam. Soal porsi, dijamin luber luber kalau di sini mah. Dijamin kenyang, kalau sampai gak kenyang kebangetan banget hehehe.

Yang membuat Bakso Kalimantan ini jadi istimewa adalah kalau misal kita tanpa racikan tambahan apa-apa (alias cuma seporsi bakso lengkap dengan kuah kaldunya itu saja) sudah haujek rasanya. Tinggal tambah sambal dan jeruk nipis. Sudah deh, kalau makan Bakso Kalimantan mertua lewat bisa ga kelihatan. #ups

Kalau saya pribadi, lebih suka makan di tempat. Nikmatnya berasa. Masih panas dan fresh. Tapi kalau mau bungkus buat dimakan di rumah ya bisa saja sih. Lebih nikmat lagi kalau minumnya es jeruk atau es degan. Beuh… surga kuliner beneran deh.

Soal harga, jujur sih saya jarang bayar sendiri wkwkwkw. Suami atau pas rame rame ama temen bayar jadi satu semua. Harganya murah kok, terjangkaulah ama kantong kita kita. Seporsi Bakso Kalimantan 10 ribu. Itu kalau porsi normal yah. Kalau porsinya nambah ini itu yaah siap siap rogoh kocek lebih yak. Sudah ah itu dulu, yang udah ngileerr langsung cuss saja ke TKP.
Semoga bermanfaat.