GO-JEK, Karya Anak Bangsa yang Terus Mengundang Polemik


Gambar diambil dari sini
Salah satu provider ojek online dalam waktu singkat sudah mampu menghijaukan kota-kota besar di Indonesia. Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Denpasar, dan Makassar. Kini, Yogyakarta, Semarang, Medan, Palembang dan Balikpapan pun menyusul menjadi hijau. Euforia Go-Jek begitu massive terasa saat konsumen mendapatkan harga promo yang lebih murah dari tarif ojek atau kurir pada umumnya. Selain itu ada juga program member get member yang bias menambah jumlah credit Go-Jek yang kita miliki. Pemasaran getok tular antar sesame konsumen untuk berbagi kode refferal semakin menambah massive persebaran pengguna aplikasi Go-Jek.

“I’m spreading the GO-JEK love. Download the GO_JEK app at http://go-jek.com/app and input this referral code “542846688” to get Rp 50,000 free credit to your first booking. #gojekgotmehere”


Pesan di atas mungkin sering kita baca beberapa bulan lalu. Banyak sekali orang yang berlomba untuk membagikan kode yang diberikan GOJEK untuk mendapatkan free credit 50 ribu. Hal ini memicu pelonjakan jumlah pengunduh aplikasi GoJek. Pengguna aplikasi dimanjakan dengan tarif "GRATIS" selama beberapa bulan. Pelonjakan pengunduh aplikasi ojek online ini kemudian berimbas pada rekrutmen besar-besaran driver GoJek di hampir semua wilayah operasional.

Kisah sukses banyak driver GoJek yang memperoleh pemasukan ratusan ribu hingga jutaan sehari membuat banyak orang tergiur untuk menjadi driver GoJek. Ribuan orang memadati setiap acara rekrutmen driver, tidak hanya di Jakarta tetapi juga di kota lain. Semua tergiur dengan iming iming pemasukan yang berlimpah. Laki - laki, perempuan, tua, muda, dengan berbagai latar belakang berduyun-duyun mendaftar sebagai driver. 
Gambar diambil dari sini 
Namun, beberapa waktu terakhir keadaan seperti berubah drastis. Perubahan ini seiring dengan dihapuskannya sistem referral dan harga promo bagi pengguna aplikasi. Selain pengguna aplikasi, driver juga turut mengalami tsunami perubahan. Hal ini terjadi karena penerapan kebijakan oleh manajemen yang dianggap memberatkan driver. Selain kebijakan manajemen, driver juga dibuat pusing dengan jumlah order yang kian menurun karena sudah dihapuskannya harga promo.

Ramai diberitakan di berbagai media massa aksi unjuk rasa para driver GoJek. Aksi tersebut dikatakan sebagai bentuk kekecewaan karna banyaknya driver yang terkena suspend. Suspend yang dilakukan oleh manajemen GoJek ini bukan tanpa alasan, hal ini ditengarai karena banyaknya oknum driver yang melakukan kecurangan mulai dari melakukan order fiktif hingga menggunakan aplikasi penunjang yang "terlarang" untuk memenangkan bidding. Aksi demo tidak hanya terjadi di Jakarta tapi juga Bandung dan Surabaya.  

Gambar diambil dari sini
Belum selesai kegaduhan di internal GoJek, baru baru ini publik dibikin heboh dengan keluarnya pernyataan dan peraturan dari Menteri Perhubungan Ignatius Jonan yang melarang beroperasi layanan ojek yang berbasis aplikasi. Larangan ini jelas menghantam GoJek sebagai layanan ojek online terbesar di Indonesia. Pemberitaan di media massa dan media sosial ramai ramai membahas tentang ini. Mulai dari masyarakat awam hingga pejabat teras. Hingga muncul tagar #SaveGojek yang menjadi trending topic di Twitter.

Banyak pihak yang mempertanyakan kebijakan Jonan ini, karena tak lama kita mendengar berita Presiden Jokowi mengajak makan siang perwakilan driver dari berbagai perusahaan penyedia jasa ojek online, termasuk GoJek. Dalam pertemuan itu jelas sekali Presiden Jokowi menunjukkan keberpihakannya dengan para driver dan memberikan dukungan penuh adanya penyedia jasa ojek online. Sehingga munculnya pernyataan Jonan ini dipertanyakan mengingat bukankah Menteri merupakan kepanjangan tangan dari Presiden.

Bayangkan, ada berapa ratus ribu driver yang dinaungi oleh GoJek atau bisnis serupa lainnya. Berapa keluarga yang akan kehilangan salah satu mata pencahariannya jika si Ayah atau Ibu tidak lagi menjadi driver. GoJek memang bukan satu satunya perusahaan yang bisa memberikan lapangan pekerjaan. Tapi GoJek merupakan salah satu solusi yang diberikan oleh Nadiem Makarim untuk sedikit mengurangi angka pengangguran.

Tapi bersyukurlah, polemik pelarangan operasi GoJek dan ojek online lainnya hanya bertahan sebentar. Karena saat Presiden Jokowi mengetahui kasus ini, Jonan secara tiba-tiba menarik kebijakannya. Bahkan menyatakan akan memperbarui regulasi yang mengatur tentang angkutan umum.

Lantas setelah polemik ini selesai, cerita apalagi yang akan disuguhkan oleh GoJek kepada kita semua. Menjadi pioner dalam sebuah bisnis memang tidak mudah. Istilahnya kita harus mau "babat alas" terlebih dahulu. Saya menyadari adanya modal besar dan sokongan investor kakap yang mampu melakukan lobby-lobby tingkat tinggi. Sehingga di setiap polemik yang dihadapi GoJek selalu mampu dilewati dengan mulus.

Lantas setelah ini apalagi GoJek? Karya Anak Bangsa yang selalu menarik untuk digoyang dengan polemik dan diulas dengan cermat.

Neng Nunung  

2 comments:

  1. sebetulnya sy cukup terbantu dengan ojek online semacam ini, utk keamnan n kenyamanan lbh baik drpd ojek biasa. makanya kurang sreg ajah sm peraturan pak menteri

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya juga terbantu banget kok dengan gojek... apalagi sebagai olshop bisa gampang banget kirim barang :)

      Delete