Sumber Foto
Saya dan suami penggemar film industri dari India atau Amerika. Kekaguman kami bukan hanya pada kualitas cerita dan sinematografinya tapi juga pada produktivitas industri film di kedua negara tersebut. Di tahun 2012, Duta Besar India untuk Indonesia melansir rata-rata India memproduksi 1000 film selama setahun. Di Amerika tentu jauh lebih banyak, mengingat industri film di Amerika lebih tua. Pertumbuhan industri kedua negara tersebut dengan tidak langsung mempengaruhi industri film di Indonesia. Bagaimana tidak, setiap bulan bahkan minggu, bioskop Indonesia diguyur dengan film film dari Hollywood.

Sebagai penikmat film, saya melihat ini merupakan tantangan bagi sineas Indonesia untuk bersaing tidak hanya dari segi jumlah film tapi juga kualitas film itu sendiri. Jujur, intensitas kami menonton film Indonesia di bioskop tidak sesering film film import. Setiap ada film Indonesia release, kami seleksi dulu pertama sih dari judulnya hehehe… Kalo judulnya udah nggak benar menurut kami, sudah pasti skip. Tapi syukurlah, makin ke sini film film Indonesia yang gak jelas itu makin berkurang. Bukan hilang sama sekali. Sineas Indonesia semakin sering melahirkan film film bergizi yang membuat saya semakin cinta dan bangga dengan Indonesia. Hebatnya lagi, banyak juga film film Indonesia yang memenangkan penghargaan di luar negeri.

Pada sebuah workshop, seorang motivator telah menyiapkan kartu kartu bertuliskan nama semua peserta workshop. Lantas ia meminta semua peserta workshop mencari kartu yang bertuliskan nama mereka masing-masing. Apa yang terjadi? 5 menit berlalu tak satupun yang mendapatkan kartu bernama mereka, yang ada suasana ricuh. Sang motivator pun menghentikan menyuruh mereka berhenti. Ia kemudian mengubah instruksi, "Silahkan mengambil kartu manapun yang pertama kali Anda temukan, dan berikan kepada orang yang namanya tertera di kartu". Lantas tebak apa yang terjadi? Tidak sampai 5 menit semua peserta workshop mendapatkan kartu sesuai dengan nama masing masing.

Gambar diambil dari sini
Ilustrasi di atas ingin menyampaikan pesan apa sih ke kita?

Pernah kan kita mendengar istilah take and give. Keadaan saat kita mengambil atau memberikan sesuatu dengan mengharapkan sebaliknya. Namun, prakteknya banyak dari kita yang hanya terfokus mengambil hak kita tanpa ingat untuk memberi. Tekanan kerja atau kerasnya lingkungan kadang membentuk kita menjadi sosok yang individualis, hanya terfokus pada kepentingannya sendiri. Hal ini bisa tergambar dari ilustrasi di atas. Ketika kita terfokus dengan kepentingan kita sendiri tanpa peduli pada orang lain, yang terjadi adalah chaos atau disharmoni.

Lantas mungkin sedikit dari kita akan berkata, “Ah... Apa untungnya saya repot urus kepentingan orang lain? Belum tentu ada orang lain yang berpikiran sama dengan kita.”


Saya punya cerita tentang jual beli mobil. Ayah saya pernah punya mobil Jimny kalau tidak salah jenisnya Jimny Kotrik atau Jimny Jangkrik tahun 1980an. Tipe mobil klasik yang memang jadi kegemaran Ayah saya. Suatu saat ada kebutuhan mendesak yang mengakibatkan keputusan untuk menjual mobil tersebut. Karena terikat dengan kebutuhan yang mendesak, Ayah asal saja menjual mobil itu. Di pikiran kami saat itu, asalkan mobil itu laku, tapi harapannya tetap sesuai dengan harga pasar.

Ayah memilih cara konvensional yang Beliau tahu. Cara getok tular. Setelah menunggu beberapa waktu, ada juga peminat mobil Ayah dan laku. Namun ternyata, harga yang didapat Ayah jauh di bawah harga pasaran. Ini juga kami tahu setelah ada seorang kawan saya yang memiliki kenalan kolektor mobil yang sama. Nasi sudah menjadi bubur, daripada disesali lebih baik ditambah dengan ayam, kacang, dan topping lainnya. Jadilah bubur ayam.

Kejadian itu beberapa tahun lalu. Berbekal pengalaman itu sekarang menjadi sangat hati hati dalam melakukan proses jual beli kendaraan bermotor. Terutama mobil. Takut salah dealing harga. Takut bertemu dengan penjual atau pembeli yang tidak terpercaya. Dan ketakutan lainnya.
Oleh-oleh Fun Blogging 7 Surabaya

Fun Blogging 7 Surabaya

Dari Masa Kegelapan hingga Pra Pencerahan
Perjalanan saya menjadi blogger dimulai tahun 2009, biasalah problematika anak muda (hahaha zaman kegalauan tingkat dewa). Di tahun itu hingga 2011, blog Perempuan Langit dihujani oleh kata kata yang mengiris hati. Semua isi hati yang sudah dipoles sana sini tumplek blek di blog Perempuan Langit. Ya, isinya hanya airmata, kegalauan, ratapan, dan sejenisnya. Sampai akhirnya saya mulai perlahan berhenti menulis di blog.

Masa-masa itu adalah masa kegelapan kalau bahasa saya. Jauh sebelum saya paham kalau blog itu bisa diisi hal hal berwarna dan menyenangkan. Jauh sebelum saya mengetahui kalau blog bisa jadi sumber kebahagiaan dan sumber pendapatan juga. Dan saat saya sudah tahu semua itu, saya merasa begitu bodoh membuang waktu begitu saja, tidak memanfaatkan blog dengan benar.

Gambar diambil dari sini
Saat ini Indonesia masuk ke fase masyarakat mau tidak mau harus sadar asuransi. Hal ini terlihat dengan adanya BPJS Kesehatan yang sedikit banyak menurut saya mengadopsi sebagian sistem asuransi. Sebagian besar masyarakat yang selama ini masih belum sadar asuransi "dipaksa" untuk mengikuti program BPJS.

Sesungguhnya program BPJS juga merupakan transformasi dan penyatuan berbagai program sebelumnya, misal ASKES, Jamkesmas, Jampersal, tunjangan TNI, dll. Jadi masyarakat yang sebelumnya merupakan peserta program-program tersebut akan otomatis termigrasi dan terdaftar sebagai peserta BPJS. Nah, karena program BPJS ini mengikat bagi seluruh warga negara Indonesia, maka masyarakat yang sebelumnya tidak terdaftar bahkan tidak berminat pun kini wajib mendaftar sebagai peserta BPJS.

Terlepas dari banyaknya keluhan masyarakat akan pelayanan fasilitas kesehatan kepada peserta BPJS yang kurang menyenangkan. Namun, patut diakui keberadaan BPJS sangat membantu masyarakat dari golongan menengah ke bawah. Dengan BPJS, mereka tidak perlu lagi mengeluarkan biaya saat sakit. Tentunya dalam proses klaim atau pemanfaatan fasilitas BPJS harus mengikuti prosedur yang telah ditentukan.


Gambar diambil dari sini

X : Eh say tipe calon suami idamanmu gimana sih?
Y : Aku mah gak neko neko yang penting baik, setia, taat beribadah, sayang ama                         keluargaku, pekerja keras, mapan, gak ngerokok, gitu aja lah... simple
X : Gitu itu gak neko neko?? hehehehe 
      Eh btw... Kamu sudah nyiapin umpan belum? 
Y : Umpan apa maksudnya?
X : Loh istilahnya kan kalau mancing ikan besar, umpannya juga kudu besar toh... 
Y : ????


Kalau mancing Ikan Besar, Umpannya juga Kudu Besar
Kurang lebih itu adalah poin yang ingin saya sampaikan. Berawal dari curhatan seorang sahabat yang mengeluhkan belum ada laki laki yang berani melamarnya. Yang kemudian berujung pada pertanyaan yang saya ajukan tentang kriteri calon suami idamannya. Ilustrasi percakapan di atas kurang lebih menggambarkan percakapan kami.
Duuuhh ini kenapa ya hidung aku pesek banget??
Pipi ini chubby banget sih, duh kenapa ga bisa setirus si itu?
Pengen deh wajahku seperti artis korea atau secantik nadine candrawinata
Pernah ga kamu merasakan hal itu dan bergumam ingin merubah bentuk hidung, wajah, atau bagian tubuh lainnya.

Beberapa tahun terakhir, saat marak budaya Korea dan Thailand masuk ke Indonesia, masuk pula kebiasaan atau tren tentang operasi plastik. Tindakan operasi yang diperuntukkan untuk merubah bentuk wajah. Mendadak banyak orang ingin wajahnya seperti artis Korea atau shemale ala Thailand.
Di Korea sendiri, operasi plastik seperti menjadi hal yang wajar dilakukan. Bahkan beberapa waktu lalu ada artikel berita yang menyebutkan seorang ibu memberikan kado ulang tahun ke 17 kepada anaknya berupa operasi plastik. Dan tren itu mulai menjalar di Indonesia. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya klinik kecantikan yang menawarkan jasa bedah estestik atau sekedar perawatan.

Just Love Your Self

by on November 03, 2015
Duuuhh ini kenapa ya hidung aku pesek banget?? Pipi ini chubby banget sih, duh kenapa ga bisa setirus si itu? Pengen deh wajahku seperti ...
foto diambil dari sini
Oke sebelum panjang lebar saya menulis, saya mau membatasi koridor dan frame kita semua, saya dan Anda. Karena ayah saya sampai ia benar-benar sakit dan tidak bisa bekerja adalah buruh, suami saya juga seorang buruh, saya juga bisa dikatakan sebagai buruh. Tulisan ini tidak dalam rangka menyudutkan perjuangan teman teman buruh atau apapun. Saya ingin kita semua meredefinisikan arti penuntutan hak hidup layak bagi buruh.

Setiap demo buruh, isu yang paling santer muncul di permukaan adalah kenaikan upah, selain isu penerapan standar kelayakan, serta pengangkatan tenaga outsourching menjadi tenaga tetap. Kenaikan upah hampir selalu dituntut setiap kali demo dengan alasan sudah ga mampu memenuhi standart hidup layak. Namun, di sisi lain masyarakat awam disuguhi foto foto pendemo yang menggunakan sepeda motor keluaran terbaru atau motor yang harganya tidak murah. Akhirnya masyarakat awam bertanya tanya, katanya upahnya tidak cukup untuk hidup layak, kok bisa punya kendaraan "mewah" atau handphone keluaran terbaru.

Ok kita keluar dari bahasan itu ya...