Poligami, Pilihan atau Takdir?

Beberapa hari terakhir dunia maya digemparkan dengan video seorang perempuan bercadar yang curhat tentang kehidupan rumah tangganya. Video ini kemudian semakin viral dan terus menjadi perbincangan hangat. Si perempuan yang diketahui bernama Ana ini menyatakan ia menyerah pada poligami yang dilakukan suaminya.

Yess... Isu poligami selalu berhasil jadi topik yang seksi untuk dibicarakan. Bukan karena hanya terkait SARA, tapi poligami berhasil memainkan rasa bagi para pelakunya bahkan bagi mereka yang hanya melihatnya dari jauh.


Kembali ke kasus poligami Ana, saya sungguh tak habis pikir apa kurangnya si Ana. Cantik, berpendidikan, sehat, telah melahirkan anak anak yang luar biasa, dan insyaAllah shalihah (paling tidak ia menutup auratnya dengan hijab). Apa yang kurang? Saya lantas berpikir sesuper apa dan sehebat apa suaminya hingga ia berpikir untuk selingkuh dan memutuskan untuk poligami.

Poligami kan diperbolehkan dalam agama Islam. Poligami itu Sunnah Rosul. Poligami itu bla bla bla bla... Ok fine... Coba baca kembali sejarah Rosul, apa alasan beliau untuk menikahi perempuan perempuan itu. Sejauh yang saya pelajari, hampir semua perempuan yang dinikahinya adalah janda yang berusia tak muda. Jelas Rasulullah tidak menikahi istri istri Beliau karena syahwat. Pernikahan beliau selalu memiliki misi.

Kalau bagi saya, menjalankan tuntunan agama saya secara benar menurut Al Quran dan Hadits itu sangat penting. Menjalankannya secara komperhensif. Jangan hanya dicomot ayat atau hadits sesukanya asal "mendukung" apa yang dilakukannya. Jangan sepenggal sepenggal memahami agama dan ajarannya.

Saya tidak menolak poligami, karena memang tuntunan itu ada dalam KalamAllah. Namun saya menyayangkan oknum atau pelaku poligami yang menggunakan tameng agama dalam membenarkan langkahnya. Poligami itu syaratnya berat. Bahkan dalam Al Quran pun dikatakan "jika tidak bisa adil maka cukup satu".

Kalau saya ditanya kalau kamu tidak menolak poligami berarti apa kamu mau dimadu? Saat ini saya tidak menolak poligami asal bukan suami saya yang melakukannya. Hahahhaha... C'mon saya mungkin tidak akan mau bertahan seperti Ana yang bertahan hingga hampir 2 tahun dalam kehidupan poligami.

Karena saya sadar saya tak sesuci dan memiliki Iman seteguh istri Rasulullah. Dan saya sadar menikahi manusia biasa. Karena dasar itu saya belum tidak akan siap mengizinkan penumpang lain dalam kapal rumah tangga kami. Kenapa saya berani menyatakan ini? Karena bagi saya Poligami itu bukan takdir melainkan pilihan. Dan saya memilih untuk tidak berdamai dengan takdir jika itu datang pada saya.
@nengnunung | Oktober 2015

#30DWC #Day5

Comments

Popular posts from this blog

Manisan Pedas ala Pak Tomo ini Bikin Kangen ke Kayoon Surabaya

Di Surabaya, Winona, Wiwien, dan Wike Jadi Buruan & Laris Terjual

Memeluk Hujan