Kisah Tas yang Lebih Jauh Melangkah dari Pemiliknya

Saya mau berkisah tentang sebuah travel bag. Iya travel bag. Senin kemarin ada sebuah tas yang paginya saya isi dengan baju, laptop, dan perlengkapan lain bekal untuk hadi di acara Blogger Camp di The Pines Taman Dayu Pasuruan. Kisah ini bermula jauh hari sebelumnya, bermula saat saya mendapat kesempatan mengikuti Blogger Camp di Pasuruan. Kesempatan itu langsung saya ambil. Saya atur jadwal sehingga semua terencana dengan baik. Termasuk jadwal meeting sebelum keberangkatan dan setelah nanti saya sampai di Surabaya.
Saat itu, saya jumawa, bahwa semua telah well-prepared. Senin pagi, saya packing baju baju dan peralatan. Sempat menjemput kawan blogger juga di stasiun Wonokromo dan mengantarnya ke Yello Hotel. Hotel di Jemursari ini merupakan titik temu peserta Blogger Camp. Pada kawan saya ini saya menitipkan travel bag saya. Dengan estimasi waktu yang sudah saya rencanakan. Saya perhitungkan paling lambat pukul 14.00 saya sudah kembali ke hotel.
Saya berangkat meeting, dan harus menunggu. Waktu berlalu. Saya menunggu. Saat meeting selesai saya berusaha mengejar waktu. Saya pacu motor hingga kecepatan maksimal. Saya melaju laksana racing Moto GP. Tapi sampai hotel, ternyata rombongan baru saja jalan. Tas saya dibawa oleh kawan blogger tadi naik bus. Lagi lagi, saya masih yakin dengan estimasi saya. Saya yakin bisa menyusul bus untuk ke Taman Dayu dengan motor.
Tapi yah... Ada satu kejadian yang akhirnya menghentikan keyakinan saya. Saya harus mengakui bahwa tidak semua hal bisa terjadi sesuai kehendak kita. Serapi apapun rencana yang telah kita susun, jika Allah SWT menghendaki jalan yang berbeda, maka terjadilah.
Di hari itu, saya mendapatkan pekerjaan, tapi saya juga kehilangan satu langkah saya mewujudkan impian saya.
Tapi yaah... Sesuai judul tulisan ini, paling tidak saya masih bisa bahagia. Ada bagian dari diri saya yang ikut ke sana, acara Blogger Camp, Travel Bag saya. Sejatinya travel bag adalah teman perjalanan yang setia kemanapun kita melangkah. Tapi hari itu, ia ditakdirkan berbeda. Ia melalui perjalanannya sendiri, tanpa saya. Tanpa sahabatnya ini, ia mewakili saya mengikuti gelaran Blogger Camp.
Hari itu, semua berjalan dalam hidup saya laksana roller coaster. Bahagia sedih jadi satu. Hari itu saya juga belajar, kita sebagai manusia bisa berencana apapun, tapi Kuasa Allah SWT yang menentukan semuanya. Tugas kita hanya memantaskan diri untuk menghadapi apapun rencana terbaik dari Allah SWT. Bersyukur apapun yang diberikan oleh Allah SWT.
Tulisan ini harusnya saya buat dan post kemarin. Tapi saya sadar, jika saya menulis dalam keadaan tak stabil, yang ada hanya tulisan sarat keluhan. Dan saya berusaha menghindarinya.
Salam
@nengnunung | Oktober 2015

#30DWC #Day6

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Manisan Pedas ala Pak Tomo ini Bikin Kangen ke Kayoon Surabaya

Di Surabaya, Winona, Wiwien, dan Wike Jadi Buruan & Laris Terjual

Memeluk Hujan