Rutinitas sehari hari kadang menjebak kita dalam kepenatan yang luar biasa. Baik secara fisik, pikiran, dan perasaan. Kadang kita tidak merasa itu sebagai sebuah beban, karena menganggapnya sudah biasa dilakukan setiap hari.
Pagi bangun, persiapan ke kuliah atau kantor, sarapan, perjalanan yang macet, kuliah padat atau pekerjaan yang tak henti hentinya, bertemu dosen atau atasan yang yaaah gitu lah, lembur atau kegiatan lainnya, perjalanan pulang yang macet, istirahat dan begitu terus setiap hari. Apakah kita bosan? Mungkin kita sempat merasakan bosan, tapi jabakan maya itu membuat kita terus melakukannya dengan "senang hati".
Nah apa jadinya jika itu berlangsung terus? Karena kita diciptakan bukan sebagai robot, tentu ada satu masa kita merasa hang, perlu di restart. Itu berarti kita sudah menjadi generasi kurang piknik hehehe... Apa sih bahayanya kalau kita kurang piknik?
gambar di ambil dari sini
Sekarang ini mencari rumah murah di kota besar, termasuk Surabaya memang tidak mudah. Mencari rumah di tengah kota dengan harga 400 juta maksimal seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Kalaupun ada, kondisinya pasti tidak layak dan nyaman. Dengan kisaran harga demikian, mungkin kita masih bisa memilih hunian yang nyaman di pinggiran kota atau bahkan kota penyangga du sekelilingnya.

Tapi memilih rumah di pinggiran kota pun masih harus dipertimbangkan lagi. Karena faktor jarak dan waktu tempuh yang harus dilalui setiap harinya. Lantas, bagaimana solusinya kalau kita ingin mencari rumah murah, atau paling tidak, sesuai dengan anggaran yang kita miliki. Yuk simak beberapa tips singkat dari saya.
foto diambil dari sini

Rumah...
Kini tidak hanya sekedar tempat berlindung dari teriknya panas dan dinginnya udara. Tidak hanya sebagai tempat bernaung dengan keluarga kecil maupun besar. Rumah kini menjadi simbol. Simbol kemapanan, simbol kebahagiaan, simbol kemandirian. Seseorang belum dikatakan mapan, mandiri, dan menjalani kehidupan yang bahagia jika belum memiliki sebuah rumah.

Bagi saya, rumah adalah tempat yang paling nyaman untuk melepas penat setelah seharian dihajar rutinitas kehidupan. Rumah haruslah penuh dengan cinta dan kehangatan yang dimunculkan dari masing masing orang di rumah itu.

Nah, bagaimana mendapatkan rumah yang tepat dan sesuai dengan impian kita. Tidak mudah kalau saya bilang, cari rumah itu hampir susahnya dengan cari jodoh, eh... hehehheh...

Satu dua hari ini saya sempat dibuat berpikir dengan pertanyaan yang dilontarkan seseorang "Ngapain sih kamu ngeblog lagi? Untungnya apa?" "Pekerjaan kamu itu menuntut perhatian dan fokus, meleng sedikit atau telat sedikit, klien akan rugi ratusan juta bahkan miliaran". Saat saya katakan, saya mengurus beberapa blog dan mengisi artikel di beberapa web, seseorang ini semakin terkejut.
Saya mau berkisah tentang sebuah travel bag. Iya travel bag. Senin kemarin ada sebuah tas yang paginya saya isi dengan baju, laptop, dan perlengkapan lain bekal untuk hadi di acara Blogger Camp di The Pines Taman Dayu Pasuruan. Kisah ini bermula jauh hari sebelumnya, bermula saat saya mendapat kesempatan mengikuti Blogger Camp di Pasuruan. Kesempatan itu langsung saya ambil. Saya atur jadwal sehingga semua terencana dengan baik. Termasuk jadwal meeting sebelum keberangkatan dan setelah nanti saya sampai di Surabaya.
Beberapa hari terakhir dunia maya digemparkan dengan video seorang perempuan bercadar yang curhat tentang kehidupan rumah tangganya. Video ini kemudian semakin viral dan terus menjadi perbincangan hangat. Si perempuan yang diketahui bernama Ana ini menyatakan ia menyerah pada poligami yang dilakukan suaminya.

Yess... Isu poligami selalu berhasil jadi topik yang seksi untuk dibicarakan. Bukan karena hanya terkait SARA, tapi poligami berhasil memainkan rasa bagi para pelakunya bahkan bagi mereka yang hanya melihatnya dari jauh.
Bertahun tahun percaya bahwa saya ga bakat memproduksi gambar, baik menggambar, foto, atau sekedar memfotokopi. Namun, hari hari terakhir ini seperti tertantang mematahkan stigma itu. Saya jadi jatuh cinta melihat foto bagus, terutama yang objeknya makanan. Bukan karena saya suka makan yaa...
Sore tadi saya berpapasan dengan "konvoi" motor yang membuat saya emosi. Bukan konvoi moge atau mobil mewah, kalau yang itu saya cuma eneg dan ga peduli asalkan tidak merampas hak pengguna jalan lain. Tapi sore ini, saya tak hanya sekedar eneg tapi emosi dan marah.
"Konvoi" yang sore tadi saya lihat, terdiri 3 motor. Masing masing motor ada yang berisi 2 dan 3 anak. Iya anak. Kalau dari pengamatan saya usia mereka antara 11-12 tahun, atau usia SD. Mereka tertawa, bercanda, sambil "mbleyer" motor.
Di kejadian lain, ada seorang ayah membanggakan anaknya yang bisa mengendarai motor di hadapan keluarganya. Dan anak itu masih usia SD. 
Di waktu dan tempat yang berbeda, tentu kita masih ingat kasus AQJ yang mengendarai mobil dan kecelakaan hingga menewaskan 12 orang kalau tak salah. Dan tentu kita tahu, saat itu AQJ masih di bawah usia memiliki SIM. Dan sang Ayah dan Ibunya mati matian membela anaknga hingga berani menanggung biaya hidup para korban.
Di lain tempat dan waktu, seorang ayah melabrak tetangganya yang bertabrakan dengan anak. Si tetangga dan si anak sama sama menggunakan motor. Anaknya bahkan belum lulus SMP, jelas ia tak memiliki izin mengemudi.
Dari beberapa fragmen yang saya sampaikan di atas, apa benang merah yang ingin saya sampaikan? Terkadang kita sebagai orang tua kerap kali membenarkan dan membanggakan kesalahan fatal yang dilakukan oleh anak atas nama kasih sayang. Padahal, kita lupa dengan memberikan izin anak di bawah umur mengendarai motor atau mobil, sama saja dengan mengizinkan mereka berbuat kriminal. 
Apa kita masih bangga dan membenarkan mereka saat mereka melakukan tindak kriminal? Iya kriminal. Karena jelas ada aturan yang menjelaskan tentang syarat seseorang memiliki izin mengemudi.
Apakah saya, Anda, kita, ingin melahirkan dan membesarkan anak anak dengan budaya permisif atas tindakan kriminal. Anak itu ibarat kertas kosong, putih bersih. Baik buruknya seorang anak bergantung pada orang tua dan lingkungan. Jangan sampai kita salah meletakkan kebanggaan pada hal hal yang tak sepatutnya dilakukan oleh anak. Apalagi jika apa yang mereka lakulan melanggar peraturan.

Salam
Neng Nunung

#30DWC #Day3
Saat kamu lulus SMA pernah dibuat bingung, pilih Perguruan Tinggi Negeri atau Sekolah Ikatan Dinas? Di Indonesia banyak sekali PTN yang bisa dipilih, di setiap kota paling tidak ada 2 PTN. Sekolah Ikatan Dinas juga tidak sedikit di Indonesia, ini menunjukkan masing masing telah memiliki peminatnya sendiri.

Cerita yang sama dialami adik saya. Ketika galau memilih STAN atau Universitas Airlangga, akhirnya ia memilih untuk mengikuti kedua tesnya. Rencana Allah SWT sungguh luar biasa, saat adik saya diterima di Departemen Akuntasi Universitas Airlangga, keadaanya saat itu kami agak kesulitan jika harus membayar biaya kuliah yang cukup lumayan itu. Dan ditambah doa orang tua yang dari awal ingin adik saya masuk ke STAN, adik saya juga diterima di STAN.
Saya sempat lupa menceritakan mengapa saya memutuskan kembali menulis di blog plus membuat blog baru. Salah satu alasannya adalah saya ingin menjadi versi terbaik dari diri saya bagi banyak orang. Dan salah satu cara yang saya tahu betul menguasainya adalah menulis.
Tidak mudah bagi saya kembali membiasakan menulis lagi. Sebuah rutinitas yang jujur hampir sepanjang tahun 2015 ini saya tinggalkan. Sesekali menulis di blog saya
Mau jadi ekor atau kepala?

Pertanyaan ini akan selalu muncul di sesi coaching bisnis atau motivasi bisnis. Pertanyaan yang akan terus ditujukan kepada mereka yang sedang gamang memilih masih mau jadi pegawai atau berpindah ke pengusaha.
Menjawab pertanyaan tersebut tentu tidak semudah para motivator dan coach itu menyodorkan pertanyaan pada kita. Karena bagi mereka yang bertahun atau puluh tahun terbangun mind set bahwa mencari nafkah atau uang itu dengan bekerja, mengubah mindset untuk membuka usaha tentu bukan hal sederhana. Orang orang ini bahkan akan menghadapi dead lock dalam pikiran mereka. Sehingga tak jarang bahkan menghambat pekerjaan atau rencana mereka membangun usaha.
Saya punya beberapa tips mungkin berguna bagi Anda yang sekarang ini tengah bimbang. Tips sederhana yang sudah melewati trial dan eror pribadi hehehhe...
Begitu sering -nyaris setiap hari – kita mendengar kabar kecelakaan lalu lintas, yang tak jarang pula mesti merenggut nyawa. Mungkin bahkan kamu pun pernah kehilangan orang tersayang karena kecelakaan lalu lintas. DI Indonesia, jumlah korban tewas karena kecelakaan lalu lintas mencapai 120 orang setiap harinya (data 2014). Dari kecelakaan lalu lintas yang terjadi ini, 70 persen dialami oleh para pemotor.
Kecelakaan kerap terjadi karena kesadaran pemotor dan pengguna jalan lainnya yang masih rendah. Pemandangan seperti ini mungkin lazim kamu lihat setiap hari : pemotor dan penumpangnya yang tidak menggunakan helm, anak-anak di bawah umur yang mengendarai sepeda motor, laju kendaraan bermotor yang terlampau ngebut, dan sebagainya. Perilaku sembrono seperti inilah yang memicu jumlah kecelakaan dan korban jiwa yang tinggi. Bila terjadi kecelakaan masih ada kecenderungan untuk menganggapnya sebagai takdir atau kehendak Tuhan, padahal kecelakaan bisa dihindari dengan sikap waspada dan ekstra hati-hati dalam berkendara.

Foto dari penyelanggara workshop
Sabtu ini, Surabaya panasnya totalitas banget. Sebelum berangkat dari rumah pagi itu, sengaja cek ricek dulu beberapa jadwal dan tujuan ke mana saja kaki ini melangkah akhir pekan ini. Dari sederatan jadwal, malamnya, Sabtu malam minggu tepatnya, saya ada jadwal ikut mini workshop lah. Tentang mini workshop ini saya post di kesempatan lain aja yah. Ok, balik soal jadwal. Pas cek lokasi, Gezellig Cafe, nama cafe yang masih asing di telinga saya. Ya... meskipun saya bukan AGS (Anak Gaul Surabaya) tapi tahulah mana mana cafe yang ngehits di kota Pahlawan ini.

Soal Cafe ini sengaja saya skip selama kegiatan saya seharian. Ga mikirin lagi tuh Cafe di mana tepatnya. Udah pegang alamatnya ini pikir saya. Tepat satu jam lalu (dari waktu saya nulis post ini). Saya putuskan merapat ke lokasi, Gezellig Cafe. Berbekal alamat mulailah pencarian saya. Setelah melakukan satu putaran pencarian, ternyata lokasi Cafe ada di ujung jalan tempat saya belok pertama kali (nutup mata karna malu abiss, lah udah muter ternyata di depan mata)

Gambar diambil dari sini
Setelah sejak 2009-2010, saya menulis di blog saya Perempuan Langit, akhirnya saya memutuskan untuk membangun rumah baru. Bukan karena rumah lama tak layak huni lagi, tapi semata untuk menandakan kelahiran kembali saya dalam dunia blogging yang sebenarnya. Tentu, saya tidak mungkin menghapus begitu saja rumah lama saya karena telah banyak kisah yang terlahir di sana.

Saya masih akan menulis di sana, tentunya dengan taste tulisan yang berbeda dengan yang ada di rumah baru saya ini. Jika di rumah lama, terkesan berisi "curhatan" dan   melankolis, rumah baru saya kali ini akan terasa lebih hidup. Akan ada catatan perjalanan, review buku, film, tempat makan, tempat wisata, berbagai catatan lain yang semoga bisa menginspirasi pembaca. 

Selamat datang di Rumah Baru saya. Semoga betah di sini. Semoga bermanfaat :) 


Salam, 

Neng Nunung