Saturday, August 5, 2017

Sesaat Menjadi Alien di Dunia Sendiri

Sesaat Menjadi Alien di Dunia Sendiri

Terbiasa hidup di tengah gemerlap kota metropolitan lengkap dengan segala kemudahan. Dengan gawai di tangan terkadang pula kita dengan mudahnya melakukan apa saja hanya dengan sekali klik. Lapar? tinggal buka aplikasi dan klik pesan makanan. Mau perjalanan saat kita tidak mengendarai pekerjaan, buka aplikasi juga hanya dengan sekali klik. Mau beli ini itu, bayarnya juga bisa melalui gawai. Barang akan dikirim oleh penjual langsung di depan pintu.

Namun, dengan segala kemudahan tersebut kadang kala kita lupa dengan esensi kehidupan sesunguhnya. Lebih mudah mengeluhkan hal hal kecil yang tidak sesuai dengan keinginan kita, kehendak kita. Lebih mudah menyerah melakukan hal yang kita anggap terlalu sulit dan rumit untuk dilakukan.

Pernah merasakan hal seperti sama seperti saya?

Saat hal itu terjadi, coba luangkan waktu "keluar dari peradaban" dan pergi ke tempat yang tak pernah terpikirkan (mungkin) sebelumnya. Kalau saran saya ke gunung. Mendaki gunung.

Tempat yang jauh dari keramaian. Tanpa sinyal telepon. Tanpa gawai. Tanpa segala kemudahan di kota besar. Tanpa keriuhan.

Yang ada hanya, keriuhan alam. Suara angin, burung, gemericik air di sungai atau air terjun, dan suara hati kita (sedeeeep). Saat si manusia milenium ini (panji kali ah) ini tengah ada di alam, tidur di matras sambil membuang pandangan ke hamparan langit penuh gemintang. Si manusia milenium ini menjadi sosok yang keciiill sekali. Gemintang itu menjadi jauh lebih indah dari gemerlap lampu ibukota.

Ini mungkin yang dirasakan alien saat datang ke bumi. Mereka terkerjap dan terkagum kagum dengan keindahan bumi. Tapi kali ini aliennya aku. Jauh dari peradaban akhirnya membuat kita merasa hal hal yang biasanya kita keluhkan saat ada di kota menjadi hal yang remeh temeh. Karena konon, saat mendaki gunung sesungguhnya bukan gunungnya yang kita taklukan tapi ego kita.

Saatnya menjadi alien di dunia kita sendiri. Lepaskan sementara rutinitas dan jadilah alien. Pilih tempat penjelajahanmu sendiri.



#Day12
================================
August 4
Back to the future
Anachronism (noun): an error in chronology; a person or thing
that’s chronologically out of place. Write a story in which a person
or thing is out of place, or recount a time when you felt
out of place.


365 DAYS OF WRITING PROMPTS
A prompt to fire your imagination, each and every day
for a year

The Editors, WordPress.com
Baca selengkapnya
Surat Untuk Perempuan yang Merebut Suamiku

Surat Untuk Perempuan yang Merebut Suamiku

Ketika saya diminta menulis surat pada seseorang yang membuat saya iri. Maka inilah yang terjadi. 

Hei kamu Perempuan yang dipilih suami saya,

Terima kasih telah hadir di antara kami, sehingga saya tahu seberapa kuat sesungguhnya hubungan kami. Terima kasih telah pada akhirnya kamu berhasil menaklukan suami saya dan membawanya pergi bersamamu meninggalkan aku. Entah dengan cara apa kamu menaklukannya, entah dengan tubuh atau benar kamu menyentuh sisi maskulinitasnya yang tak pernah bisa aku lakukan.

Karenamu, aku juga bisa sadar sejauh mana kekuatanku menghadapi masalah ini. Aku jadi sadar arti sebuah keluarga sepenuhnya.
Karenamu aku akhirnya sadar bahwa aku memiliki hak untuk bahagia dan kebahagiaan itu ada di tanganku sendiri. Bukan pemberian orang lain.

Terima kasih sudah membuat laki-laki yang telah menemani langkah hidup saya 12 tahun terakhir menjadi sosok yang asing bagi saya. Terima kasih karena semua air mata yang kamu timbulkan sejak kamu hadir di antara kami, entah sejak kapan. Selamat menjalani kehidupan keluarga kecil kalian untuk seterusnya. Entah benar atau tidak, konon katanya kamu sekarang sedang hamil. Lagi lagi selamat ya dan terima kasih telah membuat suami saya menjadi ayah dari anak yang kamu kandung.

Aku di sini hanya akan tersenyum dan melihat kebahagiaan kalian. Mendoakan yang terbaik untuk si jabang bayi. Aku tidak akan menangis lagi hanya karena masalah picisan semacam ini. Happy for both of you. Dont ever thinking about me. I'm okay and always gonna be okay with my life. My ordinary life.

Aku hanya akan membisikkan pesan dari jauh. Hati hati, sekarang ini karma dibayar lunas di dunia dan itu tidak membutuhkan waktu lama. Watch your step and please dont ever make me laugh to watch you eat your karma.

ps : jika kamu membaca surat ini minta suamiku datang temui aku dan berani menjelaskan semuanya. sehingga aku tidak lagi mendengar kebenaran dari orang lain,


(Isi surat di atas fakta atau fiksi itu tergantung kamu melihatnya dengan perspektif apa)


#Day11
================================
August 3
Green-eyed monster
Write an anonymous letter to someone you’re jealous of.


365 DAYS OF WRITING PROMPTS
A prompt to fire your imagination, each and every day
for a year

The Editors, WordPress.com

Baca selengkapnya

Thursday, August 3, 2017

Reason to Start a Good Things?


Anyyeong...

Heum, blog pertama saya bisa dilihat di sini. Tulisan pertama saya publish pada September 2009. Mereka yang mengenal saya pastilah paham alasan dibalik dibuatnya blog itu. Blog Perempuan Langit lahir karena saya perlu sarana untuk menuangkan semua yang ada di dalam kepala dan hati saya. Seorang kawan yang juga psikolog menyarankan saya untuk menuliskan semua yang saya rasakan. Alasannya saat itu agar emosi saya lebih stabil dan saya cepat move on dari permasalahan saat itu.

Dengan alasan itu, jadi bisa dilihat hampir semua tulisan dalam blog lama saya ada puisi atau curahan hati. Ada yang bilang semuanya itu kejadian nyata. Saya juga mungkin akan mengatakan demikian. Tapi mungkin juga tidak sepenuhnya benar. Ah sudahlah perdebatan antara nyata atau tidak sumber dari tulisan saya biarlah saya yang tahu hehehe...

Saya sempat konsisten menulis selama tiga tahun berturut turut. Menulis menjadi sebuah kebutuhan bagi saya bukan hanya terapi emosional. Lantas angin berhembus ke arah yang berbeda. Dan entah mengapa, saya merasa menulis bukan lagi untuk mencurahkan perasaan saja, paling tidak bukan hanya sekedar itu.

Saya kemudian bertemu dengan orang orang yang menunjukkan pada saya, menulis blog itu bisa mengarah pada hal lainnya yang jauh lebih bermanfaat bagi banyak orang. Istilah kerennya blogger. Saya perlahan belajar bagaimana menjadi blogger yang baik. Menciptakan branding yang baik pula tentang diri dan blog kita. Saya kemudian membuat blog baru dengan tujuan yang lebih "serius". Maka blog ini lahir kemudian.

Tujuan dan arah saya menulis blog sudah berubah dari awal dulu. Mungkin sesekali saya masih sering curhat, tapi lebih banyak berusaha membagikan hal hal baik pada banyak orang. And here i am today with my new blog.



#Day10
================================
August 2
Origin story
Why did you start your blog? Is that still why you blog,
or has your site gone in a different direction than you’d
planned?


365 DAYS OF WRITING PROMPTS
A prompt to fire your imagination, each and every day
for a year

The Editors, WordPress.com

Baca selengkapnya

Wednesday, August 2, 2017

SNSD Disebut Simbol Sex dan Pelacuran oleh Elly Risman. Yakin?


Beberapa waktu lalu, rame cuitan seorang psikolog bernama Elly Risman yang membagikan sebuah artikel berita.  Dalam berita itu yang menyebut Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif) yang dipunggawai oleh Triawan Munaf akan mengundang SNSD dalam rangka peringatan kemerdekaan ke 72 RI di bulan Agustus mendatang. Sambil membagikan tautan, Elly Risman mencuit beberapa kali mengenai berita tersebut dengan mention ke akun Triawan Munaf dan tagar #yangbenaraja . Elly mempertanyakan keputusan Bekraf saat mengundang SNSD yang disebut sebagai simbol seks dan pelacuran. Cuitan Elly Risman ini sontak membuat netizen gaduh.

Para penggemar KPop langsung menyerbu tweet tersebut dengan komentar protes dan kemarahan.
Para Kpopers itu menunjukkan bukti bukti bawah SNSD tidak pantas mendapatkan predikat tersebut karena berbagai kiprah mereka dalam bidang sosial. Kegaduhan ini bahkan membuat Triawan Munaf bahkan harus membalas cuit Elly Risman dan menjelaskan bahwa SNSD diundang bukan dalam rangka peringatan kemerdekaan Indonesia tapi dalam rangka Countdown Asian Games 2018.









Mendapatkan berbagai serangan dari netizen atas cuitannya, akhirnya membuat Elly Risman mengeluarkan cuitan lagi. Kali ini ia meminta maaf karena terlalu cepat memberikan respon pda artikel berita yang belum valid kebenarannya. 

Apa yang terjadi pada Elly Risman ini mungkin juga bisa terjadi pada kita semua. Ketika menerima informasi yang belum tentu kebenarannya kemudian memberikan reaksi berlebihan tanpa mencari tahu validitas informasi tersebut. Banyak yang demikian? Banyak sekali. Dan itu mengapa pengguna internet di Indonesia begitu mudahnya terprovokasi dan tergiring opininya oleh berita berita sesat yang tak jelas kebenarannya. Yang demikian ini bukan hanya terjadi pada mereka yang tingkat pendidikannya rendah saja, seperti yang kita ketahui Elly Risman adalah psikolog dan ahli parenting ternama di Indonesia. 



Kali ini saya ingin menyampaikan dua pendapat mewakili sisi yang pro dengan cuitan Elly Risman yang menyatakan SNSD merupakan simbol sex dan pelacuran serta sisi yang kontra mewakili para KPopers. 

Pro

Pernyataan Elly Risman ini berdasarkan ketakutannya bahwa SNSD akan memberikan dampak negatif pada anak anak. Anak-anak yang melihat pertunjukkan SNSD saat acara yang berlangsung 18 Agustus 2017 itu nantinya akan meniru. Seperti yang kita tahu, anak-anak adalah peniru yang ulung. Oleh karena itu, sebisa mungkin kita sebagai orang dewasa melindungi anak-anak dari kemungkinan dampak buruk dari kebudayaan luar. Termasuk girl band SNSD. 

Kontra

Harusnya sebelum protes dan membagikan cuitan tentang sesuatu berita klarifikasi dulu, apakah benar SNSD merupakan simbol sex dan pelacuran. SNSD itu siapa dan bagaimana kiprahnya di Korea Selatan. Kalau girlband seperti SNSD disebut sebagai simbol sex dan pelacuran bagaimana dengan banyak penyanyi dangdut tanah air yang menggunakan goyangan erotis. Para penyanyi dangdut itu tidak hanya menampilkan goyangan di panggung panggung off air besar, banyak juga di panggung panggung kecil yang penontonnya adalah anak-anak. 
Apakah anak-anak nantinya akan meniru atau tidak SNSD dalam berbusana atau bertingkah laku, itu bagaimana orang tuanya. Jangan terlalu paranoid dengan budaya luar, kalau anak sudah ditanamkan keimanan sejak kecil. Mereka akan memiliki self filter dalam dirinya sendiri. Tanpa harus terus menerus kita jaga.  


#Day9

============================
August 1
A house divided
Pick a divisive issue currently in the news. Write a two-part
post in which you take on two personas and approach the
topic from both sides. Bonus points for a creative format
(roundtable discussion, debate transcript, etc.).


365 DAYS OF WRITING PROMPTS
A prompt to fire your imagination, each and every day
for a year

The Editors, WordPress.com
Baca selengkapnya

Tuesday, August 1, 2017

Lebih Dari Sekedar Bangga

Lebih Dari Sekedar Bangga


Kalau ada kata lain yang mendeskripsikan perasaan bangga yang saya rasakan pada dia mungkin saya akan gunakan sekarang. Lebih dari sekedar bangga padanya.

Siapa dia? 

My beloved sister, Lenny Pebroina Suryaningsih

Dia bertransformasi dari anak kecil yang dulu suka merengek jika meminta sesuatu. Menjadi seorang wanita dewasa yang menjadi kebanggan keluarga. Dia tidak hanya mewujudkan banyak harapan orang tua saya, tetapi juga sebagai penebus rasa bersalah saya. Ketika saya banyak mengecewakan orang tua dengan berbagai hal, dia menjadi semacam obat penawar kekecewaan orang tua, bagi saya. 

Mulai dari saat dia berhasil masuk STAN dan menjadi PNS sesuai dengan keinginan Papa Mama hingga hal hal kecil yang mungkin belum bisa saya lakukan. Kadang rasa iri itu muncul, mengapa dia begitu beruntung dibandingkan dengan saya. Namun ketika sadar, setiap manusia memiliki path kehidupan masing masing, saya lantas mensyukuri semuanya. 

Dan saat ini saya ingin menyampaikan hal ini.. 

Melihat adek seperti saat ini sekarang, kakak lebih dari sekedar bangga atas semua capaianmu dalam hidup. Semoga terus bisa membahagiakan Papa Mama dan membahagiakan dirimu sendiri. You are my everything. Kebanggaan dan kekaguman serta doa terbaik selalu hadir saat melihatmu saat ini. 


#Day8

July 31
Pat on the back
Tell someone you’re proud of just how proud you are.

365 DAYS OF WRITING PROMPTS
A prompt to fire your imagination, each and every day
for a year

The Editors, WordPress.com
Baca selengkapnya

Sunday, July 30, 2017

Pentingnya Jeda Saat Ego Meninggi

Tema hari ini cukup membuat saya berpikir keras sebelum menulis. Bukan hanya tema keluar dari diskusi kemudian kembali dengan "perfect comeback" yang membuat saya pusing, tapi lebih pada saya harus menyaring kenangan yang terkait tema hari ini. And trust me, i really dont like it LOL.
But anyway, the blog must be post right. So here i am, writing anything about todays topic.
Saya tipikal seseorang yang jika sudah memiliki argumen yang kuat akan sesuatu hal, tidak suka dipatahkan. Dalam hal apapun, entah itu sekedar diskusi ringan, relationship, pekerjaan, atau apapun. Terlebih jika saya yakin, argumen saya cukup kuat dan saya berada di posisi yang benar. Keras kepala? Heum maybe... I'm scorpion girl.
Karena saya sadar dengan tipikal saya yang demikian, saya cenderung memilah mana topik topik yang saya kuasai, mana yang tidak. Dan pada akhirnya saya akan mulai menarik diri jika topik pembicaraan sudah di luar ranah saya untuk bicara.
Termasuk saat berdikusi dengan pasangan (atau mantan pasangan? Whatever) saya masih menjadi seseorang yang akan kukuh memegang argumen saya jika itu benar. Terkadang jika diskusi sudah menegang dan ego sama sama tinggi, saya memilih untuk diam dan mundur dari perdebatan. Bukan untuk menyerah. Tapi, memberikan jeda pada saat seperti ini sangat membantu saya untuk memikirkan kembali semuanya.
Benarkah argumen saya? Benarkah cara saya menyampaikan argumen tersebut? Apakah diskusi ini bisa mendapatkan solusi atau hanya memperkeruh suasana? Dan masih banyak pertimbangan lain.
Hal yang sama mungkin bisa diterapkan di saat diskusi atau debat yang cakupannya lebih luas. Terkadang saat debat atau diskusi memuncak, ego masing masing sudah memuncak. Yang ada di pikiran adalah bagaimana memenangkan ide kita. Jika demikian, sedikit step back dan re-evaluate apa yang sudah terjadi dan mencari "winning statement" dengan tensi emosi yang lebih stabil adalah salah satu pilihan yang bisa dipilih.
Salah satu fragmen yang saya ingat saat "perdebatan" dengan seseorang. Setelah saya meletakkan ego saya tidak berada di puncak emosi. Saya kembali dan mengatakan hal ini pada dia
"Seburuk buruknya aku sebagai istri, aku tetap perempuan yang punya harga diri. Entah menurutmu aku sudah tidak lagi berharga untuk dipertahankan tapi aku berhak atas penjelasan. Saat kamu memintaku baik baik pada orang tuaku. Maka kembalikan aku baik baik juga.  Bukan pergi tanpa penjelasan. Aku juga tidak akan mengemis kamu untuk kembali. Kamu tahu bagaimana menghubungi aku. Aku tunggu kamu datang. Sesiapmu saja."
Dang!!!!

Gambar diambil dari sini


#Day7
============
July 30
Drawing a blank
When was the last time your walked away from a discussion, only to think of The Perfect Comeback hours later?
Recreate the scene for us, and use your winning line.

365 DAYS OF WRITING PROMPTS
A prompt to fire your imagination, each and every day
for a year

The Editors, WordPress.com
Baca selengkapnya

Saturday, July 29, 2017

Tak Ada Resolusi Tahun Ini


Tahun 2017 ini luar biasa. Masuk ke tahun 2017 saya tak sedikit pun terpikir untuk menuliskan resolusi atau goal yang hendak saya capai tahun ini. Yang saya lakukan saat itu hingga saat ini hanyalah menjalani saja hari demi hari. Berusaha menyelesaikan permasalahan satu demi satu.

Apa yang terjadi sekarang, Jalani, Nikmati, Syukuri.

Saat sekarang saya ditanya "resolusi" tahun ini yang telah tercapai atau belum tercapai, tentunya tidak ada yang bisa saya tuliskan. Karena saya tidak menuliskan resolusi. Namun apa yang telah saya lalui selama setengah tahun terakhir tentu tidak dapat dinafikkan. 

Kehidupan saya berubah layaknya permainan roller coaster atau bungee jumping. Terjun bebas. Nama baik, kepercayaan diri, kebahagiaan, dan banyak hal yang telah saya bangun beberapa tahun terakhir hancur dalam semalam. Stress? Pasti. Hancur? Jelas. Namun, apakah saya berhenti? Sempat berhenti namun kini perlahan namun pasti saya mulai bangkit.

Bagaimana saya bisa bangkit? dan apa saja masalah yang menghancurkan kehidupan saya? Mungkin akan saya bagikan lain waktu. Namun satu hal yang bisa saya tuliskan saat ini terkait tema hari ini adalah saya hidup hari ini bukan karena kekuatan saya. Saya hanya menjalani apa yang ada di hadapan mata saya. Tak ada rencana 5, 10, atau 20 tahun ke depan seperti yang biasanya saya lakukan sebelumnya. 

Live Now, Do Now. 
Jalani, Nikmati, Syukuri.

Gambar diambil dari sini
#Day6
============================
July 29
State of your year
Write up a mid-year “State of My Year” post.

365 DAYS OF WRITING PROMPTS
A prompt to fire your imagination, each and every day
for a year

The Editors, WordPress.com
Baca selengkapnya